Kata yang tak ternialai, tapi bernilai
- Tak seorang pun dalam hidup ini melainkan pernah merasakan pahitnya ujian hidup. Bahkan para nabi sekalipun. Karena kita tinggal diatas bumi yang sama, tempat yang memang disiapkan untuk menjalani ujian. Berterima kasihlah pada siapa saja yang telah memberimu maaf sebelum engkau memintanya. Berterima kasihlah pada mereka yang berhasil mengerti keadaanmu sebelum engkau menceritakannya. Berterima kasihlah pada mereka yang telah mencintaimu dengan segala kekurangan yang ada pada dirimu. Dan jangan lupa mendo’akan kema’afan untuk orang-orang yang telah menyakitimu dalam diam. Yang selalu menebar fitnah dan permusuhan agar orang lain membencimu. Satu hal yang harus engkau ingat, bahwa penafsiran orang lain tentang dirimu takkan memberi pengaruh apapun tentang siapa dirimu disisi Allah. Pujian manusia itu semu. Bila mereka cinta, mereka akan menghiasi dirimu dengan sejuta sanjungan. Namun bila mereka benci, mereka akan membuatmu lebih buruk dari apa yang ada dalam benakmu. Lelah dan selalu berujung sepi, itulah akhir kisah dari mereka yang menjadikan ridho manusia sebagai obsesi hidupnya.
- Disinilah mungkin loyalitas kita kepada sesama manusia diuji, apakah kita bisa “memaafkan orang-orang yang menyakiti diri kita”, maka bisa kita simpulkan tak ada manusia yang sesempurna nabi umat islam, maka belajarlah mencintai Allah dan nabi di atas segala sesuatu, niscaya kita akan mendapatkan kelapangan dan keikhlasan hati untuk memaafkan sesama manusia, ingatlah “perjuangan nabi kita yang memperjuangkan agama yang damai ini (islam)”, apakah kita sebagai umatnya tak merasa malu kalau kita merusak agama yang damai ini dengan rasa dengki, kita hidup di dunia ini hanya sementara dan dunia ini adalah ladang bagi kita (perbuatan), hasil (perbuatan) itu akan kita panen (pertanggung jawab kan) pada yaumul hisap.
0 komentar:
Post a Comment