Menyelaraskan
Kehidupan antara Dunia dan Akhirat
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ
بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً عَظِيماً
أما بعد
Segala puji bagi Allah
yang telah menganugerahkan kita kenikmatan yang sangat banyak sedari kita
berada di rahim ibu kita, hingga saat ini di usia kita sekarang. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ
لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ اللهَ لَغَفٌوْرٌ رَحِيْمٌ
“Jika
kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu
menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl: 18)
Firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala ini sering sekali kita dengar, hampir-hampir terasa
hambar tidak lagi bergetar di hati kita. Namun pernahkah kita mencoba
merenungkan nikmat-nikmat Allah yang telah kita kecap, udara yang kita hisap
tanpa dipungut biaya, tengoklah mereka yang terbaring di rumah sakit bernafas
dengan selang dari tabung oksigen, rumah sakit tidak memberikan itu cuma-cuma
kepada mereka. Lihatlah organ tubuh Anda, bekerja dengan dinamis dan saling
bersinergi, tidak lain semua itu adalah nikmat Allah yang Dia anugerahkan
kepada hamba-hamba-Nya. Maka dari itu segala puji bagi Allah yang telah
menganugerahkan sedemikian banyak kenikmatan kepada kita dan kita bertaubat
atas kemaksiatan kita kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum muslimin jamaah
Jumat yang dirahmati oleh Allah
Khatib mengajak diri
khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena
ketakwaanlah parameter kebaikan seorang hamba di sisi Allah. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling
bertakwa…” (QS. Al-Hujurat: 13)
Kaum muslimin jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah membuat perumpamaan-perumpamaan dan menceritakan
kisah-kisah umat terdahulu di dalam Alquran agar kita mudah dalam mengambil
pelajaran. Di antara kisah yang Allah firmankan kepada kita adalah kisah Qarun,
seseorang yang kaya raya dalam kehidupan dunianya, namun seseorang yang sombong
dan tidak memikirkan tentang akhiratnya akhirnya ia pun merugi di akhirat
kelak.
Dalam rangkaian kisah
Qarun di dalam surat Al-Qashash, Allah hendak mengajarkan kepada kita bagaimana
semestinya seseorang menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya.
Allah berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ
نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا
تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menjelaskan
prinsip yang agung, bagaimana hendaknya seseorang menyelaraskan antara
kehidupan dunia dan akhiratnya. Setidaknya ada empat poin dari ayat ini
yang bisa kita jadikan prinsip dalam mengarungi kehidupan dunia.
Pertama, “Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat.”
Wasiat yang pertama
yang diasampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagaimana
hendaknya seseorang menjalani kehidupannya di dunia ini adalah dengan mengejar
akhirat mereka. Mengapa? Karena akhirat adalah negeri yang abadi, tempat
manusia kembali. Seseorang akan merasakan kenikmatan yang abadi apabila dalam
kehidupan dunia mereka, mereka persiapkan amalan shalih untuk menjemput
akhirat. Dan sebaliknya, kesengsaraan yang tiada ujungnya, apabila manusia
habiskan dunia mereka dengan berfoya-foya dan berhura-hura yang hanya sebentar
saja.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjelaskan perbandingan masa waktu antara dunia dan
akhirat, Dia berfirman,
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ
كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya
satu hari di sisi Rabb kalian adalah seperti seribu tahun dalam perhitungan
kalian.” (QS. Al-Hajj: 47)
Bayangkanlah!
Renungkanlah jamaah sekalian, betapa sedikitnya, betapa pendeknya usia kita di
dunia! Lalu apakah kita akan korbankan kesenangan yang fana di dunia dengan
penderitaan yang tidak ada habisnya di akhirat kelak. Atau relakah kita
berletih dan berpeluh di kehidupan dunia ini, menahan syahwat kita, menahan
hawa nafsu kita, untuk menyongsong kebahagian yang kekal abadi di akhirat
nanti. Orang yang berakal, dan orang yang memiliki fitrah yang lurus tentu saja
ia akan memilih berjuang di kehidupan dunianya untuk menjemput kebahagiannya di
akhirat. Ia tidak akan membiarkan setan leluasa, membuatnya lalai
terus-menerus.
Tidak hanya dalam
perbandingan waktu, dalam skala perbandingan kenikmatan pun kehidupan dunia ini
tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan di akhirat sana. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ
الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى
قَلْبِ بَشَرٍ. وَفِي بَعْضِ رِوَايَاتِهِ: وَلَا يَعْلَمُهُ مَلَكٌ مٌقَرَّبٌ
وَلَا نَبِيٌ مُرْسَلٌ.
“Aku
telah siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang (kenikmatannya)
tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan juga
tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Dalam suatu riwayat: “Dan juga tidak
diketahui oleh malaikat yang dekat (di sisi Allah) juga para nabi yang diutus.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Silahkan Anda
bayangkan kenikmatan yang paling nikmat, Anda bayangkan istana yang paling
megah berdindingkan emas dan dihiasi butiran berlian dan permata, Anda
bayangkan kebun-kebun yang hijau dengan buah-buahan yang lebat dan ranum, Anda
bayangkan kendaraan termewah; mobil, pesawat, atau helicopter pribadi, maka
semua itu tidak ada bandingannya, tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan
dengan kenikmatan surga. Surga yang dialiri oleh sungai-sungai dari madu dan
susu dan pelayan-pelayan yang muda dan tidak menua dari kalangan bidadari.
Alangkah naif dan
lugunya kita, menghabiskan semua hidup kita untuk menjemput dunia tanpa peduli
dengan akhirat kita. Demi dunia yang sedikit saja, orang-orang rela
menghabiskan waktu mereka dan mereka pun hanya mendapatkan sebagian kecil dari
harta dunia, lalu apakah kita akan berleha-leha menjemput sesuatu yang jauh
lebih baik dari kehidupan dunia?
Kedua, “dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi”
Setelah Allah jelaskan
bahwa kita harus mengutamakan kehidupan akhirat, namun Dia Yang Maha Bijaksana
pun tidak menuntunkan kita untuk meninggalkan kehidupan dunia kita secara
total.
Kaum muslimin yang
dirahmati Allah
Mengapa Allah Subhanahu
wa Ta’ala mewasiatkan agar kita tidak melupakan kehidupan dunia?
Padahal realita yang kita dapati bahkan orang-orang tidak harus diperintahkan
unutk menjemput dunia mereka tapi mereka sudah tenggelam dalam kehidupan dunia.
Mengapa Allah memerintahkan manusia yang memang sudah tabiatnya mencintai dunia
untuk menjemput kehidupan dunia? Bukankah ini perintah yang sia-sia?
Tentu saja tidak,
Allah tidaklah memfirmankan sesuatu yang sia-sia tidak memiliki faidah dan
manfaat. Seseorang yang membaca Alquran dan mendengar perintah Allah tentang
keutamaan akhirat, terkadang mereka salah memahami, mereka menyangka bahwa
dunia ini harus ditinggalkan sama sekali. Yang mereka tahu, dunia hanya
mencelakakan dan membahayakan kehidupan akhirat mereka. seperti tiga atau empat
orang yang bertanya kepada isti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
perihal kehidupan beliau. Lalu mereka menanggapi, saya tidak akan berbuka dan
puasa terus menerus, saya tidak akan tidur dan shalat sepanjang malam, dan saya
tidak akan menikahi wanita, dalam riwayat yang lain orang keempat mengatakan,
saya tidak akan memakan daging. Lalu dibantah oleh Nabi shallallah ‘alaihi wa
sallam menyalahkan mereka dan mengatakan, aku puasa dan aku juga berbuka, aku shalat
dan aku juga tidur, dan aku menikahi wanita. Inilah bukti adanya orang-orang
yang melupakan dunia mereka.
Demikian juga saat
ini, banyak orang-orang yang berpenampilan Islam, lalu meninggalkan keluarga
mereka pergi berhari-hari demi alasan berdakwah akan tetapi kepergian mereka
tidak diiringi dengan pemberian nafkah kepada keluarga mereka. na’udzubillah,
Islam tidak mengajarkan yang demikian.
Ketiga, “berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu”
Allah Subhanahu
wa Ta’ala memperingatkan Qarun yang telah Allah perlakukan dengan
baik, Allah anugerahkan dia harta yang melimpah yang disebutkan di ayat
sebelumnya bahwa kunci-kucni perbendaharaan harta Qarun di pikul oleh
orang-orang yang kuat. Itu hanya kunci dari gudang-gudang hartanya, tidak bisa
kita bayangkan betapa banyak gudang perbendaharaan harta Qarun ini. Namun apa
yang diperbuat oleh Qarun? Ia malah berlaku sombong enggan berbuat baik dengan
cara mensyukuri nikmat Allah dan taat kepada-Nya. Lalu Allah tenggelamkan ia
bersama harta-hartanya ke dalam perut bumi.
Kaum muslimin yang
dirahmati Allah
Apabila kita
mendapatkan kebaikan dari seseorang, maka orang tersebut sangat layak
mendapatkan kebaikan dari kita. Bagaimana pula dengan Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tidak
terhitung kepada kita? Walaupun anugerah Allah tersebut jumlahnya sedikit
menurut kaca mata materi kebutuhan kita, maka tetaplah kita syukuri karena
seseorang tidak akan bersyukur terhadap sesuatu yang banyak apabila ia tidak
belajar menysukuri sesuatu yang sedikit.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ
أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ
كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin yang
dirahmati Allah
Setelah kita
mengetahui beberapa prinsip yang harus dipegangi seorang muslim dalam
mengarungi kehidupan dunianya. Berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan
Keempat, “janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan”
Wasiat ini pun Allah
kaitkan dengan Qarun, ia memiliki perbendaharaan harta yang banyak. Dari
kehidupan yang bergelimang harta, maka rasa congkak dan melakukan kerusakan di
muka bumi itu akan lebih mungkin dilakukan, karena ia memiliki kuasa.
Allah melarang kita
untuk melakukan perbuatan kerusakan di muka bumi, lalu Dia tutup firman-nya
tersebut dengan peringatan bahwa Dia tidak suak atau membenci orang-orang yang
berbuat kerusakan. Baik berbuat kerusakan tersebut dilakukan secara fisik;
seperti merusak jalanan, bangunan, dll. ataupun melakukan kerusakan yang
sifatnya non fisik; seperti berbuat jahat, dengki, hasad, menyebarkan kabar
dusta, merusak generasi dengan rokok dan narkoba dll.
Akhir kata kami
ucapkan, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala terus
membimbing kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini sesuai dengan yang Dia
cintai dan Dia ridhai, amin..
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبارٍكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ
مُحَمَّد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءُ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَعَوَاتِ وَيَآ
قَاضِيَ الحَاجَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
0 komentar:
Post a Comment